Cobalah Untuk Merenung

•Juni 12, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningan. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan anda tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka anda akan mendapatkan kejernihan pikiran. Jawaban berasal dari pikiran anda yang bening. Selama berhari-hari anda disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran anda memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Anda perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batin.

Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air. Semakin cepat anda mengaduk semakin kencang pusaran. Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas. Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Bahkan anda mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini anda mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran anda yang bening.

 

SUMBER: http://iphincow.wordpress.com/2011/03/01/cobalah-untuk-merenung/#more-370

PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP

•Juni 12, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

A. Pengertian
Banyak pendapat dan literatur yang mengemukakan bahwa pengertian kecakapan hidup bukan sekedar keterampilan untuk bekerja (vokasional) tetapi memiliki makna yang lebih luas. WHO (1997) mendefinisikan bahwa kecakapan hidup sebagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam kehidupan secara lebih efektif. Kecakapan hidup mencakup lima jenis, yaitu: (1) kecakapan mengenal diri, (2) kecakapan berpikir, (3) kecakapan sosial, (4) kecakapan akademik, dan (5) kecakapan kejuruan.

Barrie Hopson dan Scally (1981) mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan pengembangan diri untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan berhubungan baik secara individu, kelompok maupun melalui sistem dalam menghadapi situasi tertentu. Sementara Brolin (1989) mengartikan lebih sederhana yaitu bahwa kecakapan hidup merupakan interaksi dari berbagai pengetahuan dan kecakapan sehingga seseorang mampu hidup mandiri. Pengertian kecakapan hidup tidak semata-mata memiliki kemampuan tertentu (vocational job), namun juga memiliki kemampuan dasar pendukung secara fungsional seperti: membaca, menulis, dan berhitung, merumuskan dan memecahkan masalah, mengelola sumber daya, bekerja dalam kelompok, dan menggunakan teknologi (Dikdasmen, 2002).

Dari pengertian di atas, dapat diartikan bahwa pendidikan kecakapan hidup merupakan kecakapan-kecakapan yang secara praksis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Kecakapan itu menyangkut aspek pengetahuan, sikap yang didalamnya termasuk fisik dan mental, serta kecakapan kejuruan yang berkaitan dengan pengembangan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupan. Pendidikan kecakapan hidup dapat dilakukan melalui kegiatan intra/ekstrakurikuler untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan karakteristik, emosional, dan spiritual dalam prospek pengembangan diri, yang materinya menyatu pada sejumlah mata pelajaran yang ada. Penentuan isi dan bahan pelajaran kecakapan hidup dikaitkan dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan agar peserta didik mengenal dan memiliki bekal dalam menjalankan kehidupan dikemudian hari. Isi dan bahan pelajaran tersebut menyatu dalam mata pelajaran yang terintegrasi sehingga secara struktur tidak berdiri sendiri.

B. Konsep
Menurut konsepnya, kecakapan hidup dapat dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu:
a) Kecakapan hidup generik (generic life skill/GLS), dan
b) Kecakapan hidup spesifik (specific life skill/SLS).
Masing-masing jenis kecakapan itu dapat dibagi menjadi sub kecakapan. Kecakapan hidup generik terdiri atas kecakapan personal (personal skill), dan kecakapan sosial (social skill). Kecakapan personal mencakup kecakapan dalam memahami diri (self awareness skill) dan kecakapan berpikir (thinking skill). Kecakapan mengenal diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, sebagai anggota masyarakat dan warga negara, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sekaligus sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi lingkungannya. Kecapakan berpikir mencakup antara lain kecakapan mengenali dan menemukan informasi, mengolah, dan mengambil keputusan, serta memecahkan masalah secara kreatif. Sedangkan dalam kecakapan sosial mencakup kecakapan berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill).

Kecakapan hidup spesifik adalah kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu. Kecakapan ini terdiri dari kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional (vocational skill). Kecakapan akademik terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan pemikiran atau kerja intelektual. Kecakapan vokasional terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan keterampilan motorik. Kecakapan vokasional terbagi atas kecakapan vokasional dasar (basic vocational skill) dan kecakapan vokasional khusus (occupational skill).

Menurut konsep di atas, kecakapan hidup adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Pendidikan berorientasi kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara. Apabila hal ini dapat dicapai, maka ketergantungan terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan, yang berakibat pada meningkatnya angka pengangguran, dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara bertahap.

MATAHARI dan BULAN

•Juni 12, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

3.00-6.25 PETANG

Hujan renyai – renyai sepanjang jalan menuju Kuala Lumpur membuatkan aku kurang selesa. Titis –titis hujan memenuhi segenap cermin bas. Membentuk  seakan-akan manik-manik kecil yang cantik. Aku pula semakin kesejukan di dalam perut bas. Kesejukan yang semakin mencengkam ke tulang. Mungkin kerana cuaca di luar  yang semakin dingin. Di tambah pula dengan penghawa dingin yang sengaja di pasang dengan kuat menyebabkan aku menjadi kaku. Perjalanan yang memakan masa selama 3jam ini benar-benar membuatkan aku letih. Letih mengharungi perjalanan yang panjang.mujur, aku membawa novel kegemaranku  “ Salina” bersama. Aku isikan masa dengan membaca novel. Penumpang tidak begitu ramai. Ini membuatkan aku aman dan selesa untuk membaca. Kebanyakan penumpang lelap. Mungkin terlena kerana kedinginan cuaca di luar. Ataupun kedinginan Penghawa Dingin. Aku meneruskan pembacaan. Bas meluncur laju menuju ke destinasi. Tanpa di sedari, bas telah pun memasuki Bandaraya Kuala Lumpur. Bergerak menuju ke Hentian Puduraya. Bas bergerak perlahan memasuki hentian Puduraya. Sebaik sahaja bas berhenti,aku bergerak menyusuri penumpang-penumpang lain untuk keluar. Hujan masih lagi renyai. Aku bergegas meninggalkan Puduraya menuju ke MacDonalds yang terletak kira-kira 100 meter dari puduraya. Aku mempercepatkan langkahan. Aku bimbang pakaian akan basah kuyup. Pelanggan tidak begitu ramai ketika aku sampai. Mungkin hujan yang melanda Kuala Lumpur menyebabkan para penghuninya kurang berminat untuk keluar melakukan aktiviti rutin. Mungkin senang duduk di rumah menonton T.V. atau pun keluar menonton wayang.

6.00-7.00 PETANG

            Aku memerhatikan kesibukan kota dari dalam. Hari semakin petang. Lampu-lampu neon mula bemergelapan di sekitar kota raya. Kuala Lumpur mula bermandi cahaya. Jam menghampiri 6.45 petang. Pelanggan mula memenuhi segenap pelusuk Restoran segera. Aku masih lagi menantikan kehadiran seseorang.seseorang yang pernah mewarnai hati ini. Seseorang yang pernah menjadi teman dalam mimpi ku. Kerana dia, aku ke kota metropolis ini.. Aku mulai gentar. Jantung mulai berdegup laju. Bimbang mungkin. Bagaimana pandangannya terhadap ku nanti? Inilah pertemuan kali pertama kami setelah 3 tahun tidak bersua semenjak menamatkan pengajian di Universiti dulu. Dan kepalaku ligat berputar memikirkan persoalan dan tanggapan yang bakal timbul  dalam pertemuan kali ini. Adakah dia seperti dulu? Sama seperti yang aku kenali dari segi fiil dan sikapnya. Dan segalanya semacam payah untuk difikirkan. Aku membiarkan segala persoalan dan tanggapan yang buruk-buruk itu berlalu pergi. Pergi bersama angin senja yang kian menghambat waktu.

            Penantian sememangnya menyakitkan. Aku cuba untuk bersabar semampu yang mungkin. Hati mulai dipaut rasa resah. Mungkinkah pertemuan yang di rancangkan tidak menjadi kenyataan? Aku buangkan segala andaian jauh-jauh. Berfikir secara positif dan logik  adalah yang terbaik ketika waktu-waktu begini. Tiba-tiba sahaja telefon bimbit ku berbunyi mematikan  lamunan yang sedang memuncak. SMS darinya.

“Maaf aku lambat sikit. Kereta aku ada masalah. Harap kau tak marah. Dalam jam 8.00, aku sampai”. LIZA. Ringkas dan penuh dengan simbolik. Aku menggeleng-geleng kan kepala. Tanda kecewa. Aku cuba untuk menahan rasa kecewa yang kian menebal. Aku mengingati kembali isi SMS yang di hantar pada ku minggu lepas. Liza beria-ia meminta aku untuk datang menemuinya di Kuala Lumpur bertemu di Restoran segera MacDonalds.. Katanya ada ‘perkara besar’ yang ingin di bicarakan. Dan hari ini adalah harinya. Aku tidak ingin memikirkan ‘perkara besar’ yang ingin di sampaikan nanti.  Cuma aku kian kecewa dengan sikap Liza. Jam menunjukkan 7.30 petang. Aku segera keluar bergegas ke Puduraya mencari surau. Melaksanakan perintahNYA, tunduk mengagungkan kebesaran dan kehebatanNYA. Aku terasa tenang dan damai jauh di pelusuk hati. Aku benar-benar merasai nikmatNYA.

            Selesai solat, aku berdoa memohon di beri kecekalan jiwa agar dapat menghadapi hidup yang serba mencabar. Berharap juga agar pertemuan ini menjadi realiti dan segalanya lancar dengan izin maha Esa. Selesai berdoa, aku kembali ke MacDonalds menantikan Liza. Aku segera teringat kembali kisah silam kami berdua ketika di Universiti dulu. Bagaimana kami kenal, bagaimana kami menjadi kawan baik dan akhirnya aku sendiri jatuh cinta pada Liza. Bagaimana Liza menolak niat hati ku yang murni. Segalanya berputar bagai lembayung. Aku terluka dengan penolakkan Liza terhadap niat suciku. Lebih parah bila mengetahui hatinya kini milik seseorang. Menyembuhkan luka yang tampak di mata terlalu mudah. Tapi untuk menyembuh luka di hati mungkin sukar. Dan itu adalah fakta. Fakta yang tidak mungkin di padamkan kebenarannya. Hakikatnya, aku tidak pernah sembuh dari kelukaan tersebut. Aku mengakui bahawa aku masih punyai perasaan sayang pada Liza. Sama ada Liza menyedari atau tidak, aku tidak pasti. Aku hanya memiliki baying-bayangnya cuma. Tidak pernah sekalipun mampu memiliki hatinya. Dan setiap saat dan tika aku mengharapkan agar ada keajaiban muncul dalam hubungan kami. Tapi aku sedar segalanya adalah mustahil. Keajaiban itu hanya milik maha Esa. Aku sedar hal itu. Liza hanya menganggap aku cuma seorang kawan baiknya. Dan itulah seringkali diucapkan ketika di Universiti dulu. Segalanya tetap sama hingga kini. Dan aku tidak akan sesekali melanggar batasan yang telah ditetapkan oleh Liza. Walaupun, batasan itu membuatkan aku derita.

            “Lama dah tunggu?”. Aku terkejut dengan sapaan tersebut.sekaligus mematikan lamunan. Liza tersenyum memandang kearah ku. Liza duduk di depan ku tanpa di pelawa.

  8.00-9.00 MALAM

            Hujan tetap renyai. Serenyai perasaan aku ketika ini. Cuaca bertambah sejuk di luar. Para pelanggan semakin kurang di dalam restoran. Beberapa meja kelihatan kosong. Di tingkat atas; di mana aku dan Liza berada, Cuma kelihatan  sepasang pasangan Cina yang sedang enak menikmati hidangan yang di pesan. Kesenyapan mengigit kejap suasana. Aku membisu. Begitu juga Liza. Mungkin perasaan gementar masih lagi membaluti perasaan.

            “ Macam mana perjalanan tadi?” soal Liza. Suasana sunyi mulai berakhir.

            “Seronok. Mungkin sebab aku dah lama tak naik bas, aku menikmati setiap perjalan tadi”. Ujar ku. Aku melontarkan senyuman.

            “ Maaf pasal terlewat tadi. Kereta ‘buat hal’. Sebenarnya aku nak beritahu lebih awal, tapi aku terlupa. Maaf ya?”  Liza memberi penjelasan. Ada raut kekesalan di wajahnya.

            “ Tak mengapa, semua itu bukan kehendak kau. Lagipun perkara dah terjadi kan?” Aku cuba menggembirakan hatinya. Ternyata aku berjaya. Wajahnya beransur-ansur ceria. Segaris senyuman mulai terukir di bibirnya yang mugil.

            “ Aku tau, kau tak kan ambil hati pasal hal remeh macam ni. Itu sebabnya aku suka kawan dengan kau”, ujar Liza.

            “Jadi, apa perkara besar yang kau nak cakapkan pada aku?”. Aku mengerling ke   arah Liza. Dia tenang dengan pertanyaan aku. Setenang bulan yang bersinar di malam hari. Tiada reaksi. Aku kaget. Bimbang soalan ku tadi menyentap rasa emosinya.

            “ Habiskan hidangan dulu. Aku nak bawa kau pergi ke satu tempat. Mungkin kita boleh berbicara  di sana. Tempat ini tidak sesuai untuk perkara sebegitu. Liza bersuara dengan tiba-tiba. Bagaikan ada kuasa yang merasuki,aku patuh tanpa bicara. Segera menghabiskan hidangan yang masih bersisa.

            “Ke mana kau nak bawa aku ni?”. Soal ku. Liza mendiamkan diri. Menghabiskan makanan yang masih tinggal. Reaksi Liza itu membuatkan aku tertanya-tanya. Pelbagai-bagai soalan berlegar-legar  di kotak minda.

10.00 MALAM- 6.00 PAGI

            Bayu laut yang menghembus terasa dingin. Aku terpegun melihat keindahan pantai di malam hari. Cahaya dari tongkang-tongkang kecil milik nelayan berkelip-kelip. Seperti kunang-kunang yang menari-nari di dalam hutan. Aku menikmati keindahan ciptaanNYA dengan rasa syukur dan takjub. Pandangan ku beralih kepada Liza yang berada di sebelah. Ternyata dia juga menikmati keindahan sama seperti mana aku menikmatinya.

            “ Hidup ini tidak semudah yang kita sangkakan, betul?”. Liza membuka bicaranya. Sambil itu matanya tidak lepas-lepas memandang ke arah tongkang-togkang kecil di tengah laut. Bicara Liza membuatkan aku tersentak dari lamunan. Aku segera berminat dengan persoalannya.

            “ Itulah kehidupan. Tiada apa yang mudah dalam kehidupan. Hidup ini adalah pertembungan antara realiti dan fantasi. Dan selalunya realiti sentiasa melingkari hidup lebih dari fantasi,walaupun ada kalanya fantasi itu indah untuk difikirkan,” aku menjawab dengan tenang. Jawapan yang tidak disangka-sangka itu segera menyentap Liza. Dia berpaling kearah aku. Tersenyum.

            “ Sejak bila pula kau pandai berfalsafah tentang kehidupan ni?”. Liza melahirkan rasa kurang senang dengan jawapan aku tadi.

            “itu bukan falsafah. Tapi hakikat kehidupan yang mesti di tempuhi oleh setiap manusia,” ujar ku. Liza terdiam dengan kata-kata tersebut. Riak wajahnya seolah-olah mengakui kebenaran kata-kata yang terbit dari bibirku sendiri.

            “Kau lihat di sana; tanganku segera menuding ke arah tongkang-tongkang nelayan yang sibuk mencari rezeki di dalam kepekatan malam.

            “Mereka juga punyai impian untuk hidup dalam kesenangan. Impian yang serupa seperti orang lain”. Aku berhenti.seraya memandang Liza. Liza kelihatan memberi perhatian pada hujah ku. Dia agak terganggu dengan pandangan ku.

            “Teruskan kata-kata kau tu. Aku hairan kenapa kau bersikap skeptikal malam ni?. Kau bukan  seperti Zam yang aku kenal selama ni” Ujar Liza. Dia agak hairan dengan sikap ku itu.

            “Mereka ada impian dan fantasi sendiri. Mahu hidup mewah, ada banglo besar. Ada kereta dan mampu membahagiakan keluarga. Tapi itu Cuma impian dan fantasi yang tidak mungkin dapat digapai oleh mereka. Dan realitinya, mereka terpaksa menyabung nyawa, mencari penghidupan yang sempurna di mata mereka. Seperti mana sekarang. Aku mengakhiri kataku yang agak panjang.

            “Jadi maksudnya, setiap manusia itu punyai cita-cita dan impian seperti yang pernah mereka fantasikan atau fikirkan. Pada akhirnya, kita terpaksa berpijak pada kenyataan walaupun ia tidak seindah dan semanis yang kita sangka. Betul?”. Liza cuba metafsir simbolik dari kata-kata ku. Aku tersenyum.begitu juga Liza.

            Angin dari laut terus menerus bertiup lembut di pantai ini. Pantai ini mungkin memberi harapan kepada para penduduknya yang rata-ratanya adalah nelayan. Harapan dalam segala bentuk. Harapan untuk memajukan kehidupan mereka yang serba daif. Harapan agar generasi selepas mereka dapat menyambung perjuangan mereka dalam mencari rezeki di pantai ini. Harapan kepada masyarakat agar menghargai keindahan pantai ini dengan sebaik mungkin. Aku berfikir sendirian. Kerana itu jugalah pantai ini dinamakan Pantai Harapan. Mungkin juga. Siapa tahu. Liza kelihatan leka bermain di gigi air. Lakunya itu membuatkan aku ketawa kecil. Masih lagi keanak-anakkan. Tidak sepadan dengan usianya yang semakin matang. Aku bersantai di dada pasir,tidak jauh dari tempat Liza bermain. Aku segera mendekatinya. Rembulan yang tadi pucat di balik awan, kini bersinar megah menemani malam yang kian tua.

            “ Ada masanya kita perlu menjadi keanak-anakkan dalam sesuatu hal. Barulah hidup ini akan lebih bererti”. Ujar Liza setelah menyedari kehadiran ku. Mungkin juga dia dapat membaca apa yang terlintas di hatiku tentang dirinya itu. Aku tersenyum dengan kata-katanya.

            Aku berjalan menyusuri sepanjang pantai.beriringan dengan Liza. Dia kelihatan ceria sekali bercerita tentang kenangan semasa di Universiti dulu. Sesekali aku menyampuk percakapannya. Membuatkan rembulan makin tersenyum di balik awan. Setelah penat menyusuri pantai,kami berehat di dada pasir. Ketika ini aku bertanya kepada Liza.

            “Jadi apa perkara besar yang ingin kau beritahu padaku?”. Liza menghalakan pandangannya pada ku. Lama dia terdiam.

            “Aku akan bertunang hujung minggu depan”. Tutur Liza. Aku tersentap dengan kata-kata Liza. Tapi aku cuba menenangkan perasaan. Berpura-pura tidak ada apa yang terjadi.

            “Cuma itu saja? Tidaklah besar sangat. Aku gembira mendengarkannya”. Aku tersenyum. Aku tidak tahu mengapa aku tiba-tiba tersenyum mendengarkan berita itu, sedangkan hati benar-benar terluka dengan perkhabaran tersebut. Buat seketika aku tertunduk lesu. Memejamkan mata. Memaksa diri menerima hakikat bahawa penantian selama ini adalah sia-sia.

            “ Ada yang lebih besar dari itu yang ingin aku bicarakan”. Ujar Liza. Aku Cuma mendiamkan diri ketika ini.

            “Aku tahu, kau masih ada perasaan pada ku bukan?”. Liza segera mengalihkan pandangannya pada ku. Aku tersentak dengan pertanyaan yang tidak di duga itu.

            “Bertepuk sebelah tangan tidak mungkin akan berbunyi. Aku cuma berharap pada yang tidak pasti. Aku sedar hal itu.” Aku membalas kata-kata Liza.

            “Kalau kau sedar, kenapa masih berharap lagi?”. Pertanyaan Liza makin menyempitkan perasaan ku ketika ini.

            “Aku percaya bahawa pasti ada keajaiban di suatu hari nanti. Tuhan pasti akan menolong aku”. Ujar ku penuh keyakinan. Liza hampir menangis mendengar pernyataan  itu. Aku tahu dia terlalu kecewa dengan pernyataan tersebut. Dia terdiam. Kehilangan kata-kata.

            “Aku cuma anggap kau sebagai teman baik ku sahaja. Tidak lebih dari itu. Dan itu yang pernah aku katakan dulu. Hakikatnya tidak pernah berubah”. Ada kesayuan dalam nada suaranya. Aku mendengarnya dengan tenang.

            “Maaf…Aku terpaksa melukakan hati kau kali ini. Hati ini bukan milik kau. Harap kau memahaminya.” Liza menyambung kata-katanya. Membuatkan aku bertambah duka. Hati kecil ku kini menangis mendengar pernyataan Liza. Aku cuba menguatkan perasaan yang semakin sayu.

            “ Tidak mengapa, aku faham. Itu kata hati kau. Aku doakan yang terbaik buat kau.”. Aku melemparkan senyuman pada Liza. Sambil memujuk hati menerima rasa kecewa yang makin berombak-ombak di jiwa.

            “ Terima kasih. Aku sentiasa berharap kau akan berjumpa dengan seorang wanita idaman kau. Suatu hari nanti.”  Liza tersenyum riang.

            “ Aku benar-benar berharap agar kau dapat lupakan aku. Kita lebih sesuai untuk menjadi teman. Itu harapan ku.” Ujar Liza dengan penuh pengharapan. Aku diam membisu. Saat ini tiada apa ungkapan yang dapat aku lafazkan. Rasa pilu dan kecewa memenuhi segenap jiwa.

            “ Kau pernah dengar cerita Pungguk rindukan bulan?”. Aku menyoal Liza. Segera ku tanyakan soalan itu pada Liza. Liza kelihatan tertawa. Dia segera mengangguk-anggukkan kepalanya.

            “Pernah. Zam, kisah Pungguk itu cuma dongengan. Hanya cerita karut yang dibuat-buat. Mana mungkin Pungguk memiliki si Bulan yang jauh tinggi di awan. Jangan kata bahawa kau percaya cerita sebegitu”. Perli Liza padaku. Aku tersenyum dengan kata-kata Liza.

            “Cerita itu cuma punya makna tersirat. Cerita yang punyai kiasan. Kisah seseorang lelaki yang setia menanti wanita yang disayanginya kembali. Kembali menerima cintanya, walaupun dia sedar dia tidak mungkin memiliki hati wanita itu. Bukan cuma cerita karut semata-mata. Cerita tentang kesetiaan dan cinta suci seorang lelaki. Dongeng yang indah bukan?”. Ujar ku. Wajah Liza berubah dengan tiba-tiba. Masam. Sindirannya tadi berpatah kembali.terkena diri sendiri.

            “Zam. Tolong jangan  nak mulakan kembali pasal kita. Keputusan aku tidak mungkin berubah. Faham?”. Nada suara Liza mula berubah warna. Ada ketegasan dalam nadanya. Matanya merah menahan marah yang tiba-tiba meluap. Aku kembali terdiam.

            Bulan semakin pucat di balik awan. Suasana di pantai kelihatan sunyi. Sesekali terdengar desiran ombak memukul pantai. Tongkang-tongkang nelayan  sudah tidak lagi kelihatan. Mungkin para nelayan-nelayan itu telah kembali ke jeti membawa pulang rezeki masing-masing. Liza Cuma mendiamkan diri melihat pantai yang kosong dan sepi. Aku turut sama memerhatikan pantai yang kosong dan luas. Seperti kosongnya perasaan aku ketika ini.

            “Zam, cuba belajar untuk lupakan aku boleh?. Aku tahu bukan mudah untuk kau, tapi itu yang terbaik buat diri kau. Masa akan membuatkan kau lupa pada ku. Janji pada ku boleh?. Janji lupakan hasrat kau untuk memiliki aku.”. Liza merayu. Saat ini tangannya erat menggengam tanganku. Aku terkesima. Mulutku terkunci rapat. Kehangatan jari-jemarinya benar-benar membuatkan aku tiba-tiba sebak. Sebak dengan permintaan Liza yang sudah pasti payah untuk  aku tunaikan. Hati ku makin sebak merasakan eratnya genggaman tangan Liza. Tangan yang tidak mungkin dapat di kucup mesra atau digenggam erat seperti mana yang sering aku mimpikan dalam mimpi-mimpi tidurku selama ini. Aku pasti ini adalah pertemuan terakhir dengannya. Aku pasti. Aku tertunduk lesu. Tika ini, segala kata tidak lagi bermakna. Jiwa kian duka  tersungkur di pintu kasih. Aku cuma mengangguk lemah tanda setuju.

            “Harap kau akan mengotakan janji-janji itu.” Liza mengorak senyuman. Secantik mawar yang berkembang di pagi hari.

            “Kita akan tetap jadi sahabat sampai bila-bila Zam. Itu janji aku”. Sambung Liza. Saat ini aku berpaling merenungnya. Berfikir, mencari kebenaran kata-katanya. Apakah mungkin seorang wanita sepertinya. Yang hatinya bakal dimiliki oleh lelaki idaman hati, mampu menjadi sahabat kepada ku. Kesangsian mulai hadir di hati. Apakah kata-kata Liza sekadar pujukan untuk membaluti hati yang kian luka? Atau kata-kata itu lahir dari hatinya yang benar-benar tulus ikhlas sebagai sahabat. Semua itu menjengah fikiran ku ketika ini.

            Bulan kembali bersinar terang. Meloloskan diri dari kepungan sang awan. Terang cahayanya tidak jua mampu menerangi jiwa yang kosong dan hampa. Kedinginan malam kian terasa. Menghambat segala saraf. Aku masih lagi membisu.

            “Zam, aku ingin kau jadi seperti sang bulan itu”. Suara Liza mengejutkan aku. Lantas tangannya ditudingkan ke arah bulan yang memancar megah.

            “Bulan memancarkan sinarnya demi menemani malam yang penuh kegelapan. Mewarnai lukisan kehidupan semesta. Begitu juga sahabat. Sentiasa di sisi ketika di perlukan. Itulah kau Zam….”. Ujar Liza sambil senyuman terukir di bibir. Pandangannya segera beralih kearah bulan. Aku segera mendongak ke langit memandang bulan yang megah bersinar di dada langit. Kata- kata Liza sudah ku jangkakan.

            “Aku lebih suka jadi matahari”. Ujarku gurau. Aku tersenyum. Liza turut tersenyum.

            “Apa bezanya?. Dua-duanya sama. Menyinari alam ini. Bukankah itu sifat sahabat”. Liza memberi pendapatnya.  Kami tertawa bersama. Walaupun kecewa dengan kata-kata Liza, tapi itulah realiti yang pahit untuk diterima oleh hati.  Kadang-kala, melepaskan sesuatu yang ingin kita miliki adalah sesuatu perkara yang dungu. Namun, ada masanya lebih baik melepaskan dari memiliki kerana tidak semua yang kita miliki itu indah. Aku tiba-tiba bermonolog dengan hatiku sendiri. Aku dan Liza berjalan menuju ke kereta meninggalkan pantai Harapan yang semakin damai menanti sang pagi menunjukkan wajah. Aku pasti pagi nanti para nelayan akan kembali menjengah pantai ini. Seperti selalu.

6.00-10.00 PAGI           

            “Pukul berapa bas kau”?. Liza bertanya sebaik sahaja aku selesai membeli tiket.

            “Jam 6.30 pagi. Kenapa?”. Soal ku. Waktu ini orang tidak begitu ramai di Puduraya. Banyak kaunter tiket masih lagi belum di buka.

            “Saja aku tanya. Terima kasih Zam,” sambil tersenyum. Aku terkejut dengan ucapan yang tidak disangka-sangka itu.

            “Untuk apa?”. Aku menggaru-garu kepala ku yang tidak gatal.

            “Untuk malam yang indah. Kau sudi menemani aku. Sepanjang kita berkawan, semalam merupakan hari yang paling gembira buat aku. Aku akan sentiasa mengingatinya”. Ada keriangan dan kepuasan terlukis di wajah ayunya.

            “Aku pun begitu. terima kasih”. Aku mengukir senyuman.

            “Liza, aku banyak berfikir malam tadi. Berfikir tentang hal kita”. Kata-kata ku membuatkan Liza terperanjat.

            “Aku memikirkan kata-kata kau semalam.Mungkin itu yang terbaik buat kita”. Ujar ku. Liza diam. Dia kelihatan serius mendengar setiap patah kata yang ku tuturkan. Sejurus itu dia menghulurkan tangan untuk berjabat. Aku terpinga-pinga. Kurang mengerti dengan maksud Liza.

            “Sahabat?”. Tutur Liza. kegembiraan jelas terpancar di matanya. Seketika itu aku memahami maksud Liza.Aku segara menghulurkan tangan untuk berjabat.Aku tersenyum mesra.

            “Ya, sahabat buat selamanya.” Kata ku. Kami tersenyum.

            “Selagi ada matahari menyuluh alam, dan selagi bulan setia menemani malam. Persahabatan ini akan sentiasa kekal”. Liza bersuara.  Hentian Puduraya mulai sibuk. Kaunter-kaunter tiket mulai dibuka. Orang kelihatan berpusu-pusu membeli tiket menuju ke destinasi yang diinginkan. Aku  dan Liza segera bergerak ke tangga platform menuju ke deretan bas yang sedia menunggu para penumpang.

            “Jadi, sampai sini saja ‘pengembaraan’ kita kali ini”. Liza menghulurkan tangan untuk berjabat. Tanda selamat jalan dari seorang sahabat.

            “Tidak. ‘Pengembaraan’ kita baru saja bermula.Gurau ku. Tiba-tiba lengan ku terasa pedih. Liza mencubit lenganku. Mungkin geram dengan seloroh ku. Mukanya masam. Aku ketawa melihat wajahnya itu. Sebelum aku menaiki bas, Liza sempat berbisik sesuatu.

            “Zam, tiada sesuatu yang berharga dalam hidup ini melainkan mendapat seorang sahabat sejati. Aku benar-benar bersyukur kerana Tuhan mengurniakan kau sebagai anugerahNYA kepada ku.” Bisik Liza.

            Bas bergerak perlahan-lahan meninggalkan Hentian Puduraya. Aku memandang ke luar tingkap bas. Liza melambai-lambaikan tangannya. Aku membalas lambaiannya. Ada garis-garis duka diwajahnya. Setitis dua airmatanya tumpah membasahi pipinya. Dan wajahnya Liza kian menghilang setelah bas mulai meninggalkan Puduraya. Aku terharu dengan Liza. mungkin jua aku terharu dengan keikhlasan hatinya yang tidak pernah ku cuba untuk fahami. Mungkin jua terharu kerana ini merupakan pertemuan kali akhir sebagai sahabat. Mustahil buat aku untuk bertemu Liza lagi. Aku bertambah terharu bila mengenangkan ‘kebodohan’ yang aku cipta sendiri. Bodoh kerana cuba menagih cinta dari seorang perempuan yang hatinya  mustahil untuk dimiliki. Sedangkan dia benar-benar ikhlas dan setia dalam persahabatan. Aku segera bersandar. Merehatkan badan yang di serang keletihan. Memejamkan mata.,seraya berdoa di dalam hati

            “Ya Allah, Kau berkati dan rahmatilah persahabatan kami ini. Jadikanlah persahabatan ini kekal sehingga hari kami menghembuskan nafas akhir  kelak. Amin. Bas meluncur laju meninggalkan Kuala Lumpur. Kata orang persahabatan dan cinta itu adalah dua perkara yang berbeza dalam kehidupan ini. Kedua-duanya sama penting dalam hidup ini. Hidup tidak akan sempurna tanpanya. Entah! Bagi aku, kedua-duanya adalah sama. Nilainya punyai pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. Apa pun, aku mengerti bahawa cinta bukan mudah untuk dipaksa. Persahabatan pula akan berkembang mekar andainya sentiasa bersifat tulus, ikhlas dan jujur. Aku terlena di dalam bas yang meluncur laju.

sumber: http://kamarul.wordpress.com/koleksi-cerpen/

Ingin Langsing? Makanlah Setiap 4 Jam

•Juni 12, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mengurangi frekuensi makan bukanlah cara yang efektif untuk menurunkan berat badan. Malah, jika ingin berat badan tetap ideal Anda disarankan untuk makan setiap empat jam sekali.

Perlu diketahui, “tangki” penyimpanan makanan di dalam perut hanya mampu menampung makanan sekitar empat jam pada satu kali waktu makan. Karena itu untuk menjaga agar tangki ini tidak kosong, sebaiknya Anda mengasup sesuatu setiap empat jam sekali. Ini berarti ngemil harus jadi kebiasaan di luar waktu makan.

Pengaturan frekuensi makan demikian justru akan membantu mengontrol nafsu makan. Bila perut Anda biarkan kosong terlalu lama, tubuh akan mengeluarkan sinyal tertentu sehingga Anda jadi bernafsu mengonsumsi makanan manis atau berlemak di waktu makan.

Pengaturan waktu makan menjadi lebih sering ini juga akan membantu level energi tetap tinggi. Selain itu ngemil juga sehat bagi lambung sehingga asam lambung tidak akan cepat naik. Yang perlu diperhatikan adalah jenis dan porsi camilan yang Anda makan.

Sebagai pilihan, Anda bisa mengonsumsi camilan rendah kalori yang tetap mengenyangkan seperti cookies rendah kalori, buah-buahan, agar-agar, yogurt, atau puding.

 

sumber: http://health.kompas.com/index.php/read/2011/06/06/1157240/Ingin.Langsing.Makanlah.Setiap.4.Jam

Bicara dengan Diri Sendiri

•Juni 12, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Berpikir itu sesungguhnya berbicara kepada diri sendiri dalam batin. Jadi, manusia selalu berbicara kepada dan atau dengan dirinya sendiri. Bagaimana bila sering bicara kepada diri sendiri dengan suara keras?

Refleksi emosi

Sebenarnya selama otak masih aktif bekerja, kita selalu berbicara dengan diri sendiri, umumnya dalam batin, tidak disuarakan. Ketika kita menimbang pilihan, menenangkan diri waktu terkejut atau marah, atau berdoa, kita berbicara dengan diri sendiri.

Sesekali kita berbicara bersuara, ketika menghayati kondisi emosi intens, misalnya saat tiba-tiba menemukan solusi yang ditunggu-tunggu, saat marah. Saat teringat seseorang yang sangat dirindukan, mungkin kita ingin merealisasikan harapan akan kebersamaan dengan membayangkan ia ada dan mengajaknya berbicara. Saat intens berpikir kita kadang bicara bersuara, dan mungkin jadi lebih jelas mengenai alternatif penyelesaiannya.

Berbicara dengan suara keras ke diri sendiri jarang dilakukan. Mungkin lebih sering terjadi ketika kita tertekan, tegang, kacau, singkatnya berpikiran penuh, seperti ada pergolakan di batin yang menuntut untuk dikeluarkan. Bayangkan panci berisi air mendidih yang tutupnya bergerak-gerak kencang, bahkan mungkin dapat terlempar karena tekanan kuat dari bawah. Jelas di sini, bicara menjadi cara penyaluran emosi.

Jadi, berbicara kepada diri sendiri bisa merupakan hal sangat normal, dapat pula merefleksikan persoalan psikologis yang memerlukan perhatian serius. Kita sendiri yang dapat menetapkan, apakah yang terjadi pada kita merupakan hal wajar saja, atau sudah berlebihan sehingga mengindikasikan kekacauan batin yang memerlukan bantuan ahli untuk mengatasi?

Ketika dalam keadaan sangat tertekan dan tegang, percakapan batin mungkin keluar dalam bentuk bicara sendiri, yang bila berlebihan akan membuat takut diri sendiri dan orang lain. Bila itu halnya, kita perlu menenangkan diri, merenung (mungkin dengan bantuan orang lain juga) untuk lebih mengerti sumber ketegangan dan kekacauan pikiran kita. Menenangkan diri dapat dilakukan, misalnya, dengan cara olah napas, meditasi, dan mengembangkan visualisasi yang menenangkan batin.

Sejauh pengetahuan saya, tidak ada istilah akonsius dalam psikologi. Sayang informasi dari D kurang lengkap. Apakah kebiasaan muncul setelah kuliah dan sebelumnya sama sekali tidak pernah terjadi? Ingatkah mulai muncul kapan dan adakah pencetusnya? Pada saat-saat apa saja lebih banyak bicara pada diri sendiri? Tentang apa? Apa yang dimaksud dengan ”mempraktikkan yang ada di pikiran secara langsung dalam tindakan?” Sejauh mana kebiasaan ini mengganggu orang lain? Sejauh mana mengganggu diri sendiri?

Positif

Aktivitas itu akan menjadi gangguan psikologi bila manusia bicara sendiri sebagai respons terhadap halusinasi atau delusi. Halusinasi adalah gangguan persepsi dalam bentuk (merasa) melihat atau mendengar tanpa ada rangsang nyata, misalnya kita mendengar suara-suara berisik, orang menertawakan orang lain, atau melihat figur tertentu yang orang lain tidak mendengar atau melihatnya.

Delusi secara sederhana dapat diartikan sebagai adanya keyakinan kuat tentang suatu hal akibat penilaian realitas yang salah. Misalnya kita yakin sedang dikejar-kejar dan akan dibunuh, atau sebaliknya, ada seorang aktor sangat hebat (yang sebenarnya tidak mengenal kita) yang jatuh cinta kepada kita. Bila demikian halnya, kita harus meminta bantuan psikolog klinis dan psikiater untuk memfasilitasi penenangan batin dan pengobatan.

Bila kita menilai diri atau dunia secara negatif, kita akan bicara dalam bahasa atau kalimat negatif (”aku selalu gagal”, ”aku tidak dicintai” atau ”dunia ini buruk”, ”tidak ada yang diharapkan lagi”, ”yang jahat harus dibasmi”). Sementara itu, penilaian diri positif akan mengembangkan percakapan diri yang juga positif.

Karena sebenarnya manusia selalu bicara dengan dan kepada diri sendiri, kita perlu mengolah fenomena ini secara konstruktif demi kesejahteraan psikologis kita. Penanganan psikologi cukup sering menganjurkan kita mengembangkan self-talk yang positif untuk mengubah pikiran negatif, memotivasi diri, mengembangkan gambaran diri atau dunia yang lebih baik, mendorong gerak konstruktif melakukan sesuatu. Self-talk positif menjadi bentuk afirmasi, kalimat berulang yang kita sampaikan kepada diri sendiri untuk menguatkan diri.

Kita mengubah dari negatif menjadi positif, misalnya dari ”aku selalu gagal” menjadi ”aku sedang menyelesaikan tugasku secara bertahap”; dari ”aku tidak dicintai” menjadi ”aku menyayangi diriku sendiri dan sedang membuat diriku menjadi lebih baik”; dari ”dunia ini buruk” menjadi ”memang banyak sekali masalah sekarang ini tapi aku masih bisa melakukan hal-hal positif di lingkungan terdekatku sendiri”.

Ada hubungan saling memengaruhi antara pikiran, perasaan dan perilaku, dan kita dapat memulai dari mana saja untuk mengembangkan kondisi diri yang lebih positif. Bicara secara positif kepada diri sendiri menjadi salah satu cara untuk membuat diri menjadi lebih bahagia.

sumber: kompas.com

Remaja Indonesia Masih Sangat Membutuhkan Informasi Kesehatan Reproduksi

•Juni 12, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Menjadi remaja berarti menjalani proses berat yang membutuhkan banyak penyesuaian dan menimbulkan kecemasan. Lonjakan pertumbuhan badani dan pematangan organ-organ reproduksi adalah salah satu masalah besar yang mereka hadapi. Perasaan seksual yang menguat tak bisa tidak dialami oleh setiap remaja meskipun kadarnya berbeda satu dengan yang lain. Begitu juga kemampuan untuk mengendalikannya.

Di Indonesia saat ini 62 juta remaja sedang bertumbuh di Tanah Air. Artinya, satu dari lima orang Indonesia berada dalam rentang usia remaja. Mereka adalah calon generasi penerus bangsa dan akan menjadi orangtua bagi generasi berikutnya. Tentunya, dapat dibayangkan, betapa besar pengaruh segala tindakan yang mereka lakukan saat ini kelak di kemudian hari tatkala menjadi dewasa dan lebih jauh lagi bagi bangsa di masa depan.

Ketika mereka harus berjuang mengenali sisi-sisi diri yang mengalami perubahan fisik-psikis-sosial akibat pubertas, masyarakat justru berupaya keras menyembunyikan segala hal tentang seks, meninggalkan remaja dengan berjuta tanda tanya yang lalu lalang di kepala mereka.

Pandangan bahwa seks adalah tabu, yang telah sekian lama tertanam, membuat remaja enggan berdiskusi tentang kesehatan reproduksi dengan orang lain. Yang lebih memprihatinkan, mereka justru merasa paling tak nyaman bila harus membahas seksualitas dengan anggota keluarganya sendiri!

Tak tersedianya informasi yang akurat dan “benar” tentang kesehatan reproduksi memaksa remaja bergerilya mencari akses dan melakukan eksplorasi sendiri. Arus komunikasi dan informasi mengalir deras menawarkan petualangan yang menantang.

Majalah, buku, dan film pornografi yang memaparkan kenikmatan hubungan seks tanpa mengajarkan tanggung jawab yang harus disandang dan risiko yang harus dihadapi, menjadi acuan utama mereka. Mereka juga melalap “pelajaran” seks dari internet, meski saat ini aktivitas situs pornografi baru sekitar 2-3%, dan sudah muncul situs-situs pelindung dari pornografi . Hasilnya, remaja yang beberapa generasi lalu masih malu-malu kini sudah mulai melakukan hubungan seks di usia dini, 13-15 tahun!

Memang hasil penelitian di beberapa daerah menunjukkan bahwa seks pra-nikah belum terlampau banyak dilakukan. Di Jatim, Jateng, Jabar dan Lampung: 0,4 – 5% Di Surabaya: 2,3% Di Jawa Barat: perkotaan 1,3% dan pedesaan 1,4%. Di Bali: perkotaan 4,4.% dan pedesaan 0%.

Tetapi beberapa penelitian lain menemukan jumlah yang jauh lebih fantastis, 21-30% remaja Indonesia di kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta telah melakukan hubungan seks pra-nikah.

Berdasarkan hasil penelitian Annisa Foundation pada tahun 2006 yang melibatkan siswa SMP dan SMA di Cianjur terungkap 42,3 persen pelajar telah melakukan hubungan seks yang pertama saat duduk di bangku sekolah. Beberapa dari siswa mengungkapkan, dia melakukan hubungan seks tersebut berdasarkan suka dan tanpa paksaan.

Mana yang lebih akurat? Beberapa pakar berpendapat bahwa angka yang diperoleh melalui penelitian itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es, yang kakinya masih terbenam dalam samudera.

Biaya Sosial

Kelalaian untuk menanggapi kebutuhan remaja (dan sejujurnya, masyarakat luas) akan informasi tentang kesehatan reproduksi dan seks yang bertanggung jawab ternyata berbuah pahit. Begitu populernya perilaku berisiko, begitu banyak korban berjatuhan, begitu tinggi biaya sosial yang harus kita bayar.

Percaya atau tidak, angka statistik pernikahan dini –dengan pengantin berumur di bawah 16 tahun– secara nasional mencapai lebih dari seperempat. Bahkan di beberapa daerah sepertiga, dari pernikahan yang terjadi, tepatnya di Jawa Timur 39,43%; Kalimantan Selatan 35,48%; Jambi 30,63%; Jawa Barat 36% . Di banyak daerah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama. Padahal pernikahan dini berarti mendorong remaja untuk menerabas alur tugas perkembangannya, menjalani peran sebagai dewasa tanpa memikirkan kesiapan fisik, mental dan sosial si pengantin.

Di sebuah daerah, 36% penderita penyakit menular seksual adalah pelajar. Mengejutkan memang, tetapi dapat dipahami karena dalam sebuah survei ditemukan hanya 27% remaja Indonesia yang tahu kegunaan kondom, artinya kurang lebih 27% pula yang tahu bahwa kondom dapat mengurangi risiko tertular penyakit seksual. Dari jumlah itu, 1% pernah memakai, 10% mungkin akan membeli bila perlu, sedangkan 12% menyatakan tidak tahu .

Dari 14.628 kasus HIV/AIDS, 242 kasus di antaranya adalah anak muda berusia 15-19 tahun (98 kasus karena penggunaan narkoba suntik),4.884 kasus terjadi pada remaja 20-29 tahun (3.089 kasus karena penggunaan narkoba suntik ). Ini artinya, 1 dari 2 penderita HIV/AIDS adalah remaja berusia 15-29 tahun.

Jumlah ini masih dapat berlipatganda dan nyatanya banyak remaja memiliki informasi yang salah tentang HIV/AIDS. Hasil survei UNICEF menunjukkan bahwa 20% dari responden remaja yakin bahwa Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) pasti terlihat sangat sakit, 7% mengenali ODHA dari bercak di kulitnya, 4% dari wajah yang pucat pasi, dan 41% mengaku tidak tahu bagaimana mengenali ODHA. Hanya 12% yang percaya pada hasil tes darah.

Nasib Remaja Putri

Nilai-nilai patriarkhis yang berurat akar di masyarakat kita telah meletakkan remaja putri jauh di luar jarak pandang kita dalam kesehatan reproduksi. Undang-undang no. 20/ 1992 mentabukan pula pemberian layanan KB untuk remaja putri yang belum menikah.

Bahkan mitos pun memojokkan remaja putri, untuk membujuk-paksa mereka supaya bersedia berhubungan seks secara “suka-sama-suka”, bahwa hubungan seks yang hanya dilakukan sekali takkan menyebabkan kehamilan. Berbagai metode kontrasepsi “fiktif” juga beredar luas di kalangan remaja: basuh vagina dengan minuman berkarbonasi, lari-lari di tempat atau squat-jump segera setelah berhubungan seks.

Ketika pencegahan gagal dan berujung pada kehamilan, lagi-lagi remaja putri yang harus bertanggung jawab. Memilih untuk menjalani kehamilan dini seperti dilakukan 9,5% remaja di bawah 20 tahun , dengan risiko kemungkinan kematian ibu pada saat melahirkan 28% lebih tinggi dibanding yang berusia 20 tahun ke atas , disertai kegamangan karena tak siap menghadapi peran baru sebagai ibu. Atau menjalani pilihan lain yang tersedia: aborsi!

Ketakutan akan hukuman dari masyarakat dan terlebih lagi tidak diperbolehkannya remaja putri belum menikah menerima layanan keluarga berencana memaksa mereka untuk melakukan aborsi, yang sebagian besar dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa mempedulikan standar medis. Data WHO menyebutkan bahwa 15-50 persen kematian ibu disebabkan karena pengguguran kandungan yang tiudak aman. Bahkan Departemen Kesehatan RI mencatat bahwa setiap tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi pada remaja atau 30 persen dari total 2 juta kasus di mana sebgaian besar dilakukan oleh dukun.

Dari penelitian yang dilaukan PKBI tahun 2005 di 9 kota mengenai aborsi dengan 37.685 responden, 27 persen dilakukan oleh klien yang belum menikah dan biasanya sudah mengupayakan aborsi terlebih dahulu secara sendiri dengan meminum jamu khusus. Sementara 21,8 persen dilakukan oleh klien dengan kehamilan lanjut dan tidak dapat dilayani permintaan aborsinya.

Pengetahuan Seks

Menyedihkan, kekukuhan kita untuk terus mengingkari kenyataan bahwa remaja butuh pengetahuan tentang seks dan kesehatan reproduksi yang benar, telah menjerumuskan mereka membentuk keluarga tak berkualitas: bapak-ibu belia yang tak siap fisik-psikisnya untuk menjadi orangtua, ibu tanpa suami, juga anak-anak yang ditinggal mati ibunya saat melahirkan.

Padahal memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi tidak serta-merta memberikan pula kesempatan untuk melakukan seks bebas. Pengalaman menunjukkan, di banyak negara yang telah memberlakukan pendidikan kesehatan reproduksi remaja, yang terjadi kemudian bukanlah promiskuitas atau seks bebas di kalangan remaja seperti yang selalu dikuatirkan, tetapi sebaliknya pendidikan kesehatan reproduksi justru membuat remaja menunda keaktifan seksualnya.

Meski perdebatan belum surut, akhirnya Pemerintah Republik Indonesia pun memaklumkan pentingnya kesehatan reproduksi remaja. Ini sudah tertuang dalam Propenas 2001. Betapa melegakan, Indonesia akhirnya menapak maju mengejar ketertinggalannya dibanding negara lain, setidaknya dengan mengawali upaya untuk memberikan informasi yang benar dan akurat tentang kesehatan reproduksi remaja.

Tetapi untuk mengejar ketertinggalan dari masalah yang terus berlipatganda bagai deret ukur dibutuhkan lebih dari sekedar pencanangan pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Begitu banyak hal terkait yang bisa dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah dengan berbagai pihak antara lain:

Mengkaji ulang dan membuka peluang perubahan aturan, hukum dan perundangan; seperti Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 yang memberikan celah bagi terjadinya pernikahan dini, dan Undang-undang nomor 20 tahun 1992 yang mengganjal layanan kesehatan reproduksi untuk remaja putri yang belum menikah, serta seluruh aturan dan kebijakan yang dibuat berlandaskan undang-undang tersebut.

Mengembangkan kebijakan dan program berdasar paradigma baru yang lebih peka gender dan “ramah” pada remaja dengan menempatkan remaja sebagai subjek aktif yang patut didengar, dilibatkan, dan dengan demikian turut bertanggung jawab atas kepentingan mereka sendiri.

Pendidikan kesehatan reproduksi remaja, termasuk di dalamnya informasi tentang keluarga berencana dan hubungan antargender, diberikan tak hanya untuk remaja melalui sekolah dan media lain, tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat.

Rumusan baru ‘kejantanan’ yang lebih menekankan tanggung jawab dan saling menghormati dalam relasi antargender perlu pula dipopulerkan di antara remaja putra. Program pelayanan kesehatan reproduksi remaja harus mulai dipikirkan, dengan penyedia layanan yang ‘ramah remaja’: menjaga kerahasiaan, tidak menghakimi, peka pada persoalan remaja.

Meneruskan upaya meretas hambatan sosial budaya dan agama dalam persoalan reproduksi dan seksualitas remaja, melibatkan kelompok masyarakat yang lebih luas, seperti ulama-rohaniwan, petinggi adat untuk menilai, merencanakan dan melaksanakan program yang paling tepat untuk kesehatan reproduksi remaja, termasuk juga mendorong keterbukaan dan komunikasi dalam keluarga.

Apa pun yang dirancang dengan baik takkan berjalan sempurna tanpa kerja yang sungguh-sungguh untuk mendengar remaja kita, berupaya memenuhi kebutuhan psikologisnya, memuaskan rasa ingin tahunya, sembari mengajari mereka menjalani kehidupan dengan bertanggung jawab.

sumber: http://www.kesrepro.info/?q=node/407

MIROR OH MIROR

•Juni 10, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Miror miror, where did I left my heart?”

cermin itu tetap diam, tidak menyahut seperti di dongeng Putri Salju.

“Miror miror, where did i left my self?”

cermin itu tetap bening, nampak bayangan wajahnya yang kusust masai di permukaannya. Air mata masih membias di pelupuk, menyajikan bayang-bayang suram dan menyedihkan di bekas penglihatan. Sampai sekarang, ia tetap berdiri memandang cermin, entah menunggu cermin menjadi ajaib, atau karena lelah. yang jelas, ia masih tetap bersedih.

Dia, seorang gadis yang sedang galau. Bahkan tidak berubah saat bayangan lain muncul di cermin, bayangan seseorang yang gelap, tanpa mata, tanpa alis, tanpa hidung, tanpa wajah.

“Apa yang kamu risaukan?” tanya bayangan itu.

gadis itu hanya mengerjap sekali. “Aku merisaukan masa depanku!”

“Hiduplah pada batasan hari ini!” ujar bayangan dalam cermin.

Gadis itu menggeleng. air mata masih tetap meleleh di pipinya. “Dan membiarkan hari esok samar? Oh, kurasa itu bukan pilihan hidup yang baik. Sebuah pilihan hidup yang egois.”

Bayangan dalam cermin hening sejenak, sampai kemudian, ia menjawab. “Masa depan yang aku tahu, Masa depan yang satu jam lagi? iya, kalau masih ada usia. Hidupku adalah hidup sampai detik ini. Makanan yang telah habis kumakan itu adalah milikku.”

gadis itu terdiam, menyesapi kata-kata itu dalam. sebutir pemahaman yang selama ini ia tekankan pada dirinya, menyeruak dalam pikirannya, dan itu merusak argumen bayangan hitam. gadis itu menolak.

“Itu seperti menelusuri goa gelap dengan sebatang lilin. Dan kamu hanya terpaku pada lilin di tangan, bukan pada panjang goa yg harus kamu tempuh.

Bayangan menjawab. “Goanya berakhir dimana?”

Gadis itu melanjutkan. “Jika kamu hanya mengurus hari sekarang, maka kamu akan bahagia karena lilin masi di tangan, namun jika kamu berpikir panjang akan hari esok, maka kamu akan mulai khawatir semenjak lilin itu dinyalakan.”

Sang Bayangan diam. Entah apa yang terjadi, ia terus membisu hingga sang gadis menyusut air matanya sendiri.

“Kenapa diam?” tanya gadis itu.

“Kamu sudah mengetahui jawabannya, semua pertanyaanmu sudah ada di kepalamu. Diri dan hatimu tertinggal di tempatnya, hanya kamu yang sedang tidak merasakannya saat ini. Jika kamu takut masa depan, maka hanya dirimu sendiri yang bisa menghadapinya, sama halnya saat kamu mempertanyakan dimana hati dan dirimu. Hanya kamu yang tahu, bahwa masa depanmu ada di bayangan yang akan kamu lihat di cermin ini, nanti setelah aku menghilang,”jawab bayangan di cermin.

Perlahan bayangan di cermin membayang. Samar-samar gambar hitam di permukaannya menghilang, semakin samar dan menghilang. Hingga akhirnya, cermin itu benar-benar kembali seperti semula.

Hanya bayangan gadis itu sendiri yang terlihat.
Dan itu menjawab semua pertanyaan.

Dimana kita mencari kebahagiaan?
Dimana kita menemukan kesedihan?
Dimana pula saat kita butuh bantuan dan pertolongan?
jawabannya hanyalah, dari diri kita sendiri. Hanya diri kita sendiri yang kita punya untuk menghadapi semua, hanya diri sendiri yang yakin bisa diandalkan, dan kadang itu sendiri sudah cukup.